This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 18 November 2013

SEEKOR BURUNG DAN SAYAP YANG KERDIL

Sumur Abar - Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya. Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya. Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih. Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?” Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.” Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan. Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Sumur Abar, 18/11/2013

Rabu, 17 Juli 2013

FRESH GRADUATE UNTUK SEBUAH PENGABDIAN



Sumur Abar - Produk kelulusan mahasiswa dari perguruan tinggi tentu membawa dampak terhadap daya serap lulusan sebagai tenaga kerja baru atas peluang kerja yang tersedia. Kondisi seperti ini tak akan pernah selesai karena akan selalu dihasilkan lulusan baru setiap tahunnya, baik dari PTS ataupun PTN. Lulusan dari PTN pertahun mencapai 625 ribu orang, 80 persen di antaranya berada di Jawa. Para lulusan ini cenderung tidak memenuhi kebutuhan industri.

Jika data tahun 2010-2011 saja tercatat ada 4.337.039 mahasiswa di Indonesia, 58% kuliah di PTS dan 42% di PTS dengan kategori PTN baik dan besar 79% ada di Jawa, dan PT dengan kategori sedang hanya 21% ada di luar Jawa, maka dapat dipastikan bahwa empat tahun ke depan yang akan datang lulusan baru PT akan berada di atas angka 1 juta.

Dari catatan dunia kemahasiswaan terhadap stakeholder pengguna tenaga kerja lulusan PT, ternyata selama ini sering mengeluhkan kemampuan softskill tenaga kerjanya. Lantas kriteria tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan? Dalam persaingan global saat ini, kebutuhan tenaga kerja profesional dengan kemampuan softskill yang baik sudah menjadi tuntutan yang wajib dimiliki. Tenaga profesional yang demikian ini tidak lagi sekedar memiliki skill dan kecerdasan emosional, namun juga diperlukan juga kemampuan softskill yang sudah terasah lama sejak menempuh studi, sehingga tidak instan dan asal ikut pelatihan.

Bagaimana dunia pendidikan kita mendorong dihasilkannya produk pendidikan yang mampu menjawab tantangan global? Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan dalam pengertian pendidikan, yaitu: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirim kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinyam masyarakat, bangsa dan negara. Lalu bagaimana fakta yang ada dalam dunia pendidikan kita? Jujur harus kita katakan bahwa produk pendidikan kita belum mencapai seperti yang tertuang dalam UU 20/2003 tersebut.

Hasil survei tahun 2010 diketahui bahwa sebanyak 83,18 persen lulusan PT berharap menjadi karyawan, 60,87 persen lulusan sekolah menengan menginginkan menjadi karyawan juga. Dan yang bercita-cita menjadi pengusaha, untuk lulusan PT untuk sementara hanya 6,14 persen, sementara lulusan SMA hanyab 22,63 persen, sedangkan jumlah pengangguran sebanyak 8 juta orang. Angka ini menjelaskan kepada kita bahwa dunia pendidikan belum sepenuhnya mampu mendorong terciptanya para lulusan yang siap turun di dunia kerja secara mandiri. Belajar dari bangsa yang sudah maju memang semuanya berangkat dari kerja keras untuk tujuan membangun kemajuan bangsanya. Dan menjadi bansga yang maju merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia.

Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan sehingga untuk mengukur suatu bangsa itu maju atau terbelakang dilihat dari bagaimana kemajuan dunia pendidikannya, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila generasi yang dicetak outputnya bagus, pasti SDM yang dihasilkan bagus, namun apabila output proses pendidikan gagal, maka sulit mencapai kemajuan.

Kehadiran para fresh graduate untuk memajukan Indonesia sangat dinantikan, khususnya membangun dan memajukan dunia pendidikan guna mengubah keadaan pendidikan di negeri ini sesuai harapan menuju mekajuan yang merata di seluruh negeri. Kiprah fresh graduate di dunia pendidikan ini tdiak berhenti bahkan hilang karena harapan imbalan yang belum pantas dan layak diterimanya karena jumlah tidak sesuai harapan, tapi harus lebih mengedepankan rasa tanggungjawab yang ditumbuhkan secara profesional untuk memajukan bangsa. Imbalan atas kinerja di bidang pendidikan saat ini sedang di proses untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, apalagi kita sendiri yang mengatakan jer basuki mawa bea.

Jujur harus dikatakan bahwa dunia pendidikan di Indonesia memasuki tahun 90-an mengalami lompatan kemajuan yang luar bisa di berbagai jenjang pendidikan. Apalagi perkembangan tekhnologi di era modern saat ini sangat mendukung terbukanya informasi yang dibutuhkan dunia pendidikan. Seiring dengan dukungan tekhnologi, dalam dunia pendidikan, pekerjaan rumah membangun SDM bangsa yang berdaya saing global membutuhkan piranti-piranti yang mampu menciptakan kader bansga yang kuat pada setiap jenjang pendidikan. Itulah gerbang pengabdian  para fresh graduate yang dinantikan di dunia pendidikan.

Sumur Abar, 17/7/2013

Selasa, 07 Mei 2013

GRATIS BUKAN BAHASA PENDIDIKAN



Sumur Abar - Mutu pendidikan yang berkualitas disinyalir menjadi kunci dari permasalahan bangsa Indonesia terhadap lemahnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Praktis, Indonesia masih berkutat pada status “negara berkembang” dan tak mampu beranjak merangkak naik untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri. Mengenai kualitas pendidikan ini, terdapat berbagai permasalahan yang melingkupinya, mulai dari pendidikan yang rumit, kualitas siswa yang rendah, mutu pendidik yang kurang, biaya pendidikan mahal hingga kebijakan UU pendidikan yang kacau.

Akhirnya, gerakan pendidikan gratis menjadi brandsmark yang didengung-dengungkan akan menjadi solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia. Target wajib belajar selama sembialn tahun yang dicanangkan pemerintah pun disinyalir akan lebih mudah tercapai. Kondisi ini akhirnya memicu munculnya kebijakan pemekaran anggaran bagi pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD. Kebijakan ini akhirnya memunculkan berbagai program pendidikan gratis yang ditargetkan kepada sekolah-sekolah, terutama sekolah non-favorit, untuk dapat menyelenggarakan pendidikan gratis tanpa memungut biaya apapun dari wali siswa.

Harus diakui memang, sepintas kebijakan ini cukup baik untuk mampu menjawab permasalahan-permasalahan pendidikan semisal akan berkurangnya beban wali siswa untuk pembiayaan pendidikan serta tidak akan ada lagi siswa yang harus kena skors gara-gara nunggak bayar SPP.
Namun apabila dicermati lebih dalam, program murni pendidikan gratis justru rentan menambah permasalahan, target mulai yang diusung menyimpan bara dalam sekam. Justru, dengan program pendidikan gratis akan mematikan esensi dari cita-cita luhur pendidikan yaitu menciptakan pelajar yang mandiri, kreatif dan produktif.

Sesungguhnya, kualitas pendidikan menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang memiliki kesungguhan dalam belajar. Karakter yang kuat dan mentalitas yang tangguh merupakan bagian dari target pendidikan selain mencetak keunggulan intelektualitas dan keanggunan moralitas. Masalah biaya justru akan memacu sebagai tantangan dalam belajar para peserta didik. Memberikan pendidikan gratis secara cuma-cuma justru hanya akan mencetak generasi muda yang instan, hanya suka jalan pintas dan mental gratisan. Pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan gratis mampu melemahkan semangat belajar dan rasa tanggungjawab untuk bekerja keras terhadap pendidikannya.

Selain itu, permasalahan tentu ada pada diri orangtua yang akan mulai kehilangan rasa tanggungjawab terhadap beban belajar anaknya. Praktis, nilai kepuasan dan tanggungjawab serta rasa memiliki akan luntur. Kemudian kebijakan pendidikan gratis akan turut memberikan sekat dan memisahkan komunikasi antara sekolah dan pihak orangtua siswa.

Maka, seharusnya pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah harus dilakukan dengan syarat, dan bukan cuma-cuma. Ini agar mencetak generasi yang pekerja keras, kreatif, bertanggungjawan, dan bermental baja untuk bersaing dalam dunia yang lebih luas.

Artinya, program pendidikan gratis bisa dialihkan sebagai dalam bentuk pemberian beasiswa yang lebih banyak dan aktif, seperti beasiswa bagi pelajar berprestasi di berbagai bidang untuk memompa berbagai bakat dan minat yang dimiliki pelajar. Bantuan pemerintah tidak seharusnya untuk menutupi semua kebutuhan secara menyeluruh, namun tetap sisakan ruang bagi orangtua siswa untuk memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai wali siswa. Sehingga dengan kebijakan ini justru berbagai target yang dicanangkan akan secara massif terwujud seperti penyelenggaraan pendidikan gratis bagi siswa berprestasi di berbagai bidang, menciptakan pelajar kreatif dan bekerja keras serta berdaya saing, dan terwujudnya pendidikan yang berkualitas tanpa membebani orangtua siswa.

Sumur Abar, 7/5/2013

Minggu, 17 Maret 2013

LOUISE BRAILLE : The Boy Who Invented Books For The Blind

Sumur Abar - Louis Braille adalah anak Simon Braille, pembuat pakaian kuda terkenal. Louis lahir 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah desa di Prancis. Sejak menjadi buta di usia tiga tahun akibat kecelakan di bengkel kerja ayahnya, semua menjadi tidak mudah bagi Louis. Kala itu sangat sedikit yang bisa dilakukan orang-orang buta di Prancis. Sebagian besar hanya menjadi pengemis. Pada awalnya orang tua Louis pun sangat kasihan kepada anak mereka yang buta. Mereka cenderung melindungi secara berlebihan, bahkan memanjakan. Namun, kemudian mereka berpikir, Louis harus tumbuh seperti anak-anak lain. Mereka tidak ingin Louis seperti anak-anak buta lain yang takut melakukan apa pun. Pelajaran Orang Tua Louis Kesadaran untuk membuat Louis bisa seperti anak-anak bermata awas pun mulai diwujudkan. Mereka mulai mengajari Louis mengenali lingkungan rumahnya, hingga tidak lagi menabrak benda-benda ketika berjalan. Ayahnya mengajarinya bekerja menghaluskan kulit di bengkel. Louis memang tidak dapat melihat, tapi dia bisa merasakan kehalusan kulit dengan jarinya. Begitu pula ibunya. Setiap malam, Louis membantu ibunya menyiapkan meja sebelum makan malam. Louis tahu benar di mana harus meletakkan piring, mangkuk, dan gelas. Louis juga harus pergi ke sumur mengambil air untuk minum dengan ember melalui jalan kecil berbatu. Sering air di embernya tumpah karena ia tersandung batu-batu. Namun, Louis tetap harus kembali dengan ember berisi air. Ayahnya lalu membuatkan tongkat dan mengajari Louis mengunakannya. Louis mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah di hadapannya ketika berjalan. Dan, jika ujung tongkat menabrak sesuatu, tahulah ia, saatnya untuk berhenti dan minggir atau berjalan di sampingnya. Dalam perkembangannya, Louis juga berhasil menemukan cara sendiri agar tidak menabrak saat berjalan, yaitu dengan bernyanyi atau bersenandung. Dengan bersuara, Louis dapat merasakan jika ada benda-benda di hadapannya, dinding, pintu, atau lemari; gema suaranya akan terpantul kembali lebih cepat jika ada benda-benda di hadapannya. Ia belajar dari apa yang dilakukan kelelawar. Meski tidak dapat melihat dengan jelas, kelelawar dapat terbang di malam gelap karena terbang sambil bersuara. Begitu juga halnya dengan cara Louis mengenali lingkungan di sekitarnya. Ia senantiasa bisa menemukan cara untuk membuat dirinya semakin hari kian pandai mengenali dan membedakan; suara orang-orang, langkah kaki kuda, dan lain-lain. Ia hidup dengan mengandalkan tanda-tanda yang dia tetapkan sendiri. Ini semua tidak lepas dari peran orang tua yang sedini mungkin mengajarkan pada Louis segala hal yang dilakukan orang-orang yang tidak buta. Namun, Louis harus melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda. Pendeta lalu mencoba menitipkan Louis belajar di satu-satunya sekolah di Coupvray. Semula Louis bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, dengan cara mendengarkan. Louis pun senang karena bisa bersekolah. Namun, saat guru meminta murid-murid “membuka buku”, Louis sedih, karena tak ada yang bisa ia lakukan. Sesekali ia meraba-raba saja buku temannya, tapi tak ada yang bisa ia baca di sana. Untuk mengatasinya, kadang Louis meminta teman-temannya membacakan buku untuknya. Tentu saja ini sangat tergantung pada kesediaan mereka meluangkan waktu. Di saat seperti ini, satu-satunya yang Louis pikirkan adalah betapa menyenangkan jika dapat membaca buku sendiri. Keinginan dan kesadaran akan pentingnya menulis dan membaca terus menuntun Louis, hingga saat Pendeta Palluy berhasil membantu menemukan The Royal Institute Of Blind Youth, sekolah untuk tunanetra di Paris. Sekolah ini kemudian menjadi tempat Louis belajar dan bekerja, serta menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk para tunanetra. Keberhasilan Louis memang tak bisa dilepaskan dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Orang tua, pemuka agama di desanya, guru, serta teman-temannya saat bersekolah di Coupvray dan di Paris, teman sesama guru dan kepala sekolah sebagai pemimpinnnya saat telah bekerja, para pemuka masyarakat yang peduli pada pendidikan anak-anak tunanetra, dan yang merupakan keharusan adalah dukungan pemerintah Prancis dengan mengakui huruf Braille ciptaan Louis secara resmi. Itu semua bisa terjadi karena Louis juga menunjukkan keinginan luar biasa untuk mencapai kemajuan, bahkan membuat perubahan. Louis mengerti benar apa yang orang-orang buta pada umumnya butuhkan, dan ia berjuang untuk mewujudkannya. Ia terus mencoba dan berusaha. Bahkan, tidak putus asa meski semua buku hasil tulisan tangannya sempat dimusnahkan. Rasa sedih, marah, dan kecewa karena tidak atau belum mendapatkan tanggapan yang diinginkan juga sering dirasakannya. Namun, keinginannya agar tunanetra di seluruh dunia dapat menulis dan membaca buku sehingga dapat menjadi orang-orang yang berpendidikan, mengalahkan segala perasaan yang tidak menyenangkan itu. Bahkan, rasa sakit akibat tuberculosis pun tak menghentikannya untuk terus melangkah. Kini, 185 tahun setelah Louis Braille menciptakan huruf Braille, cita-citanya masih belum sepenuhnya tercapai. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, masih banyak anak tunanetra belum bersekolah saat usia mereka sudah memasuki masa duduk di kelas. Mereka belum mengenal huruf, apalagi membaca. Mereka yang sudah dapat membaca pun masih belum dicukupi dengan buku-buku yang diperlukan. Masih dibutuhkan ratusan Louis Braille, ribuan Pendeta Palluy, Dr Pignier, Joseph Gaudet, bahkan orang seperti Dufau, di seluruh penjuru bumi. Louis Braille telah memberikan teladan kepada kita semua bahwa diperlukan kerja sama untuk mewujudkan impian. Di era dengan dukungan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seharusnyalah upaya meneruskan perjuangan Louis Braille agar para tunanetra dapat menjadi manusia berpendidikan bukanlah hal yang terlalu sulit. Diperlukan upaya bersama, kegigihan, ketekunan, serta komitmen dan konsistensi semua pihak, seperti yang dicontohkan Louis Braille. Sumur Abar, 17 Maret 2013

Kamis, 08 November 2012

MASALAH & SEGENGGAM GARAM

Sumur Abar - Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang tengah tertimpa masalah yang bertubi-tubi. Ia berjalan dengan langkah yang gontai dengan mimik yang suram. Orang ini memang terlihat seperti sedang bersedih juga tidak bahagia. Melihat orang tua yang berdiri tidak jauh darinya, pemuda itu menghampiri dan menceritakan permasalahannya kepada orang tua itu. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan kisah yang diceritakan oleh pemuda itu kemudian mengambil segenggam garam dan meminta pemuda itu untuk mengambilkannya segelas air. Ditaburkanlah garam tersebut ke dalam segelas air yang dibawakan oleh pemuda itu sambil berkata, “Coba.. minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” ucap pak tua itu. “Pahit! Pahit sekali!’ balas pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum lalu membawa pemuda itu untuk berjalan-jalan berdampingan ke tepi telaga. Sesampainya di tepi telaga, pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu lalu mengaduknya dengan sepotong kayu hingga tercipta riak air. Kemudian pak tua itu kembali berkata. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Setelah si pemuda selesai meminum air tersebut pak tua itu kembali bertanya kepada si pemuda, “Bagaimana rasanya?” “Segar!” balas si pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu, anak muda?’ ‘Tidak.” Timpal kemudian dengan penuh heran dengan maksud pertanyaan si pak tua. Kemudian dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda itu sembari mengajaknya untuk duduk bersimpuh di tepi telaga itu. “Anak muda, dengarkanlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung kepada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kita lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Lalu pak tua itu kembali memberikan nasehat, “Hatimu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu merendam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Lalu keduanya beranjak pulang pada hari itu. Si Pak tua kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda lainnya yang sering datang kepadanya dengan membawa keresahan jiwa. Seringkali ketika kita menghadapi masalah, kita mengeluh, betapa berat masalah kita, betapa sulitnya masalah itu dilewati. Padahal harus kita renungi bersama; mungkinkah Allah mempersiapkan masalah untuk kita tanpa mempersiapkan diri kita lebih dulu?; mungkinkah Allah melimpahkan masalah di luar batas kemampuan kita?; mungkinkah Allah memberikan masalah tanpa memberikan pula jalan keluarnya?; mungkinkah Allah tidak mengangkat derajat orang-orang yang mampu melewati masalah dengan baik? Maka sesungguhnya masalah adalah cara Allah mendidik kita, kita ingin kuat Allah berikan masalah agar kita semakin kuat. Maka jadilah orang yang kuat sehingga apapun menjadi mudah dilaksanakan, sehingga doa yang baik bukanlah, “Allah, mudahkanlah urusanku” karena itu hanya membuatmu lemah dan manja, dalam setiap keadaan kamu akan merasa berat dan berpikirain instan untuk menginginkan segala sesuatu yang mudah dan praktis. Tapi berdoalah, “Allah, kuatkanlah aku” dan kamu menjadi orang yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah yang akan terasa ringan, berat pun menjadi sebuah tantangan yang mengesankan. Sumur Abar, 8/11/2012

Minggu, 30 September 2012

KOLONEL SANDERS : Si Anak Yatim yang Menjadi Raja Ayam Goreng (KFC)

Sumur Abar - Mendengar kata KFC, gambar ayam goreng super gurih pasti langsung muncul di benak Anda. Meski ayam gorengnya terkenal di seantero jagad, tapi tahukah Anda siapa pria berjenggot yang selalu ada di setiap logo KFC? Adalah Kolonel Harland Sanders, pria berjenggot yang gambar wajahnya telah berpuluh-puluh tahun menghiasi logo KFC. Dia merupakan ikon restoran cepat saji paling populer di dunia. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa pria di logo KFC tersebut memang nyata dan pernah hidup. Siapa sangka, hidup pendiri perusahaan restoran cepat saji tersebut tak semulus bisnisnya sekarang. Tak cukup menjadi yatim sejak kecil, Sanders harus bekerja keras mengasuh adik-adiknya. Dia juga pernah menjadi kondektur bus untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Lewat kehidupannya, Anda juga tak akan menyangka, butuh waktu 9 tahun untuk menemukan bumbu rahasia kelezatan ayam goreng KFC. Tak heran, ayam gorengnya laku keras di pasar dunia. Mau tahu lika-liku kehidupan pria berjenggot dan berdasi di logo KFC? Berikut kisahnya seperti dikutip dari Telegraph, New York Times, situs resmi KFC dan berbagai sumber lainnya, Senin (18/11/2013): Sanders kecil, hidup penuh siksaan Harland David Sanders lahir pada 9 September 1890. Sejak kecil, Sanders sudah menghadapi berbagai cobaan kehidupan. Ayahnya meninggal saat dia masih berusia enam tahun. Ibunya terpaksa harus bekerja banting pulan menghidupi Sanders dan adiknya yang masih berusia tiga tahun. Karena ibunya harus pergi bekerja, Sanders yang juga masih kanak-kanak, bertugas mengurus adiknya di rumah. Dia memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Karena sering memasak di rumah, di usianya yang ke-7, Sanders memiliki kemampuan masak yang patut dipuji. Meski demikian, hidup Sanders penuh siksaan. Sang ibu yang tak tahan dengan kemiskinan menikah dengan pria lain. Sayangnya, sang ayah tiri selalu memukuli Sanders tanpa alasan yang jelas. Sanders pun lari dari rumah atas izin ibu kandungnya. Pendiri KFC pernah jadi kondektur bus Demi menghidupi dirinya, Sanders ikut menerjunkan diri ke dunia luar dan bekerja sejak usia 10 tahun. Kerasnya kehidupan dan kebutuhan yang mendesak membuat Sanders tak gentar menjajal berbagai pekerjaan di jalanan. Masa mudanya dihabiskan dengan bekerja sebagai tukang kebun, kondektur bus, budak tentara di Kuba, pembantu rumah tangga, hingga pemadam kebakaran. Tak hanya itu saja, dia juga bekerja sebagai sales asuransi, sales ban sampai akhirnya bertahan sebagai penjaga pom bensin untuk Standard Oil. Pada 1930, dengan uangnya, dia berhasil membeli pom bensin dan bengkel di daerah Kentucky. Di sana, dia melihat banyak pengendara mobil mencari makanan saat tengah mengisi bahan bakar atau membetulkan mobilnya. Rasa lapar para pelanggannya tersebut justru dipandang Sanders sebagai peluang bisnisnya. Dia lalu memutuskan untuk memasak dan mencoba menjual makanan buatannya pada para pengendara yang mengisi bahan bakar di pom bensin miliknya. Para pelanggan merasa senang dan menyukai masakan Sanders. Kepuasan para konsumen menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sanders. Hal itulah yang membuatnya terus memasak. Di usianya yang ke-40 tahun, Sanders membuka restoran pertamanya di depan stasiun pengisian bensin di Corbin, Kentucky. Di sana Sanders bekerja sebagai pengisi bahan bakar, koki, dan kasir. Area penjualan makanannya diberi nama Sanders Court & Cafe. Pada 1936, Gubernur Kentucky Ruby Laffoon memberikan gelar Kentucky Colonel pada Sanders karena kontribusinya pada sektor makanan di sana. Setahun kemudian, Sanders Court & Cafe menambah motel sebagai salah satu bisnisnya. Bisnisnya tak berjalan mulus, pada 1939, api melahap restorannya. Meski kemudian dia berhasil mendirikan danmembukannya kembali. Setelah 9 tahun mencoba meracik resep rahasia dengan teknik yang masih digunakan hingga sekarang, Sanders akhirnya berhasil menemukan resep ayam goreng super lezat pada 1940. Pada 1952, dia pun mendirikan restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) pertamanya. Dalam logo restorannya, dia sudah menyertakan wajahnya bersama dengan nama restoran yang ia dirikan. Saat itu logo KFC masih berwarna hitam putih. Namun, pada 1955, pemerintah membangun jalan tol melintasi Corbin, Kentucky. Dia terpaksa harus menjual pom bensinnya. Sanders menerima dana pengganti sebesar US$ 105 saat itu. Setelah membayar utang untuk usahanya, dia jatuh bangkrut. Tetapi pekerja keras yang satu ini tak pernah menyerah. Dia lalu dia menjual ayam gorengnya dengan menggunakan mobil. Dia terus berusaha mengenalkan produk ayam gorengnya ke seluruh penjuru Amerika Serikat (AS). Dia lalu memasak ayam goreng dari satu restoran ke restoran lain dengan perjanjian dirinya akan dibayar dengan satu nikel untuk satu potong ayam yang terjual di restoran tersebut. Bisnisnya pun menjadi besar dengan sejumlah franchise (waralaba) yang didirikannya. Sumur Abar, 30/9/2011

Selasa, 17 Juli 2012

WORTEL, TELUR & BIJI KOPI

Sumur Abar - Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih. Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu dengan aroma yang sedap. "Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. Di saat kesulitan menghadang langkah Anda, perubahan apa yang terjadi pada diri Anda? Apakah Anda menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi? Itu terserah Anda. Sumur Abar, 17/7/2012

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More