This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Karena Muslimah Adalah Ratu

Sumur Abar - Alkisah, ada seorang prajurit Inggris bertanya pada orang muslim yang baru salat dari masjid. Si prajurit bertanya, “Wanita muslim aneh ya? Kenapa sih mereka tidak boleh saling sentuh dengan pria walaupun cuma jabat tangan? Itu bukan hal yang aneh kan?” Pria muslim balik bertanya, “Coba, sekarang aku yang tanya, kalau kamu yang seorang prajurit Inggris, boleh tidak tiba-tiba jabat tangan atau pegang-pegang ratu Elisabeth, boleh juga tidak aku sentuh-sentuh tangannya?” Prajurit itu dengan lantang menjawab, “Watch your tongue!! Jangan asal ngomong kamu! Ratu itu punya kedudukan tinggi! Mana boleh disentuh oleh pria sembarangan seperti kita. Hanya raja dan keluarga kerajaan yang boleh, walaupun hanya jabat tangan!” Pria muslim kemudian terseyum dan menjawab, “Ya itulah muslimah. Di dalam Islam, agama kami, mereka ibarat seorang ratu. Mereka tidak boleh disentuh kulitnya oleh sembarangan orang kecuali sang raja, yaitu suaminya, dan anggota keluarga saja. Mereka juga punya kedudukan tinggi. Begitulah kami menghargai muslimah.” Prajurit Inggris lalu bertanya lagi, “Terus kenapa aneh begitu, mereka harus berpakaian dengan pakaian yang dibungkus-bungkus? Kan cantiknya berkurang kalau seperti itu!” Pria muslim ini langsung mengeluarkan dua buah permen dari sakunya, ia kemudian membuka bungkusan permen yang satu dan membiarkan permen yang lain masih terbungkus rapi. Pria muslim itu lalu menghempaskannya ke atas tanah seraya berkata, “Sekarang, coba kamu pilih satu permen untuk kamu makan, mana yang kamu pilih?” Prajurit menjawab, “Tentu yang masih dibungkus rapi! Mana mungkin saya harus mengambil dan memakan yang sudah tidak terbungkus? Jijiklah, sudah tidak steril!” Pria muslim menjawab, “Nah seperti itulah muslimah. Kamu tau, muslimah itu wanita pilihan, makanya mereka harus dijaga dengan dibungkus (kerudung dan pakaian menutup aurat) agar mereka tetap steril dan bersih, bahkan dalam keadaan dekat dengan tempat kotor sekalipun. Sehingga kelak mereka akan diambil atau dipinang oleh yang berhak dalam keadaan bersih, steril, tanpa bekas apapun dan siapapun.” Seorang prajurit tersebut akhirnya terdiam dan menyadari betapa indahnya ajaran Islam. Betapa hebatnya Islam dalam memperlakukan wanita, sehingga mereka diperlakukan layaknya seorang ratu. Mereka adalah orang-orang yang dijaga dan dilindungi agar tetap dalam kecantikannya, tanpa pernah “terjajah” oleh orang yang tidak berhak. Mereka benar-benar “dihargai” dengan sangat mahal, sehingga seseorang yang hendak meminangnya harus benar-benar serius dan rela berkorban untuknya. Seorang wanita sempurna seperti setangkai mawar berduri. Dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya. Semua kisah, puisi, syair dari klasik hingga post modern memberi tajuk “mawar berduri” untuk gambaran kesempurnaan bunga. Namun terkadang orang menganggap duri pada mawar menganggu, merusak bahkan mengurangi keindahan kelopak mawar. Padahal justru dengan duri itulah setangkai mawar jadi sempurna, terjaga, terlindungi, dan tidak dipetik oleh sembarang orang. Kita pun perlu mengubah mindset kita dalam memandang mawar berduri. Seringkali kita mengeluh bahwa mawar rusak indahnya karena duri, kita tidak mensyukuri sebaliknya, bahwa subhanallah duri itu memiliki bunga mawar nan indah mempesona. Mawar adalah wanita, sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah . bagi seorang wanita. Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita, mengekang dari kebebasan, membuat sulit mendapatkan jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal seperti duri pada mawar, justru aturan itu yang melindungi, menjaga keindahan wanita dan membuat seorang wanita mulia dan berwibawa, layaknya seorang ratu yang berkedudukan tinggi. Seperti duri yang jadi penyempurna mawar. Maka aturan Allah yang menjadi penyempurna wanita. Dan jika mawar berduri adalah mawar sempurna. Pastinya, wanita dengan aturan yang melekat dari Rabb-nya pula wanita yang sempurna. Seorang wanita sempurna seperti mawar berduri di tepi jurang. Bukan mawar di tengah taman. Jika mawar ada di tengah taman, mungkin tidak semua orang bisa memetiknya, tapi semua orang akan dengan mudah memandanginya dan menikmati keindahannya. Selain itu, tidak menutup kemungkinan orang biasa hingga orang kurang ajar yang nekat bisa memetik bunga tersebut dengan mudah walaupun ada tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap berani memetik toh di bawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman “Denda sekian puluh rupiah atau kurungan sekian waktu”. Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya. Jikalau ada yang hendak memetiknya, pastinya ia adalah orang yang benar-benar menginginkannya dan rela berkorban hanya untuk mendapatkannya. Ia adalah seorang laki-laki sejati. Ia tahu betapa berharganya wanita, betapa berharganya mawar berduri di tepi jurang tersebut, hingga walaupun sulit dan membutuhkan perjuangan yang melelahkan, ia akan tetap memperjuangkannya, dan tentu karena begitu menginginkannya, dan tahu betapa berharganya ia, serta betapa perjuangan berat yang harus ia tempuh hanya untuk mendapatkannya, maka pria itu akan benar-benar menjaganya dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun ia tidak diperlakukan layaknya seorang raja, ia akan tetap memperlakukan wanita itu layaknya seorang ratu. Maka wahai para wanita, jadilah seperti bunga mawar yang tumbuhlah di tepi jurang. Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa mencolekmu, menjamahmu. Hingga jikapun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu. Pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu. Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang lelaki. Karena wanita bukanlah barang murah yang boleh disentuh seenaknya, apalagi barang murahan yang habis manis sepah dibuang, kalau sudah bosen diputusin dan ganti yang lain. Wanita bukan barang hiasan yang bisa dipetik dengan ancaman kecil. Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi seorang lelaki berani. Seorang wanita dengan aturan dan keterasinganlah yang menarik minat lelaki peradaban. Tapi bagi lelaki pecundang, tentu mengambil mawar tak berduri di tengah taman lebih diinginkan, “Lebih sedikit resiko,” begitu kata mereka yang kalah. Lalu terserah Anda para wanita, Apakah Anda berharap tangan pemberani atau hanya tangan para pecundang yang menyentuh Anda. Tidak tertarikkah Anda bahwa lelaki yang pertama kali menyentuh hatimu, dan menyentuh kulitmu, adalah sang imam kamu sendiri? Sungguh, Anda terlalu berharga.. Sumur Abar, 17/3/2014

Senin, 03 Maret 2014

SETELAH ADA KESUSAHAN, PASTI ADA KEMUDAHAN

Sumur Abar - Wahai saudaraku, pernahkah Anda merasakan sebuah keadaan dimana berbagai cobaan datang silih berganti, berbagai musibah datang menerpa, berbagai kesulitan hidup menghimpit jiwa dan menyesakkan dada–dada kita. Pernahkah Anda merasakan sebuah keadaan di mana berbagai upaya telah kita tempuh, berbagai ikhtiar dan doa telah kita jalankan, akan tetapi permasalahan itu tak kunjung selesai, hanya tinggal kepasrahan atas kehendak Allah, yang menyelimuti pikiran kita, pernahkah kita mengalaminya? Itu merupakan sebuah dinamika hidup yang harus kita jalani. Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah bekerja ada istirahat, setelah sakit ada sembuh, yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Bagaimanapun hidupmu, pastikan janganlah membuatmu bersedih, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman Allah ; “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah (94) : 5-6). Bukan hanya kita sebagai manusia biasa yang mengalaminya, kekasih-kekasih Allah seperti para nabi-Nya pun tak kan luput dari permasalahan tersebut. Rasulullah Saw pun pernah mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya, percobaan pembunuhan, pelecehan, cacian, hingga pemboikotan pun pernah beliau rasakan, tapi sungguh luar biasa ketabahan beliau dan keoptimisan beliau dalam menyikapi hal itu semua. Ketika ayat 5-6 surat Al-Insyirah turun, Rasulullah Saw bersabda ; “Bergembiralah kalian semua, karena akan datang bagi kalian kemudahan, kesukaran tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” Maka saudaraku, berilah kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar terang dari puncak gunung, dan celah-celah lembah. Berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, bahwa akan ada kegembiraan dan ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu. Ketika kita hendak menuju Jakarta dari Surabaya, dapat dipastikan kita tidak akan langsung melihat Jakarta pada langkah-langkah awal, akan tetapi setapak demi setapak yang kita lalui hanya akan terlihat di depan mata kita pemandangan yang jaraknya hanya sekian meter dari posisi kita, namun apabila terus berjalan menempuh perjalanan, maka Jakarta itupun akan segera terlihat oleh mata, dan sampai pula di Jakarta tempat tujuan. Sesungguhnya, setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan. Sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Yakinlah apabila himpitan dan kesulitan itu telah mencapai puncaknya, maka insya Allah ia akan berakhir dan terlampaui dengan hadirnya kemudahan dan kelapangan. Lihatlah bagaimana saat Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk, namun apa yang terjadi pada beliau setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fikih. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis kasidah yang benar-benar membuat orang terpukau, syair-syair beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang terkenal itu. Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu disuguhkan seseorang secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula di dalamnya biar terasa manis. Jadikanlah pendingin di dalam tubuhmu yang keras, dan panas itu sebagai penyeimbangnya. Agar keluar dari dalam tubuh kita bunga yang harum semerbak wanginya. Bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya, karena Allah berfirman : “Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah yang terbaik untukmu. Begitupun sebaliknya, bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga.” (Qs. Al-Baqarah (2): 216). Sumur Abar, 3/3/2014

Kamis, 12 Desember 2013

KALAU GAGAL, JANGAN COBA LAGI

Sumur Abar - Mungkin pembaca merasa heran dengan judul di atas, dalam mindset yang kita pahami, apabila Anda gagal dalam mencapai suatu keinginan atau target, maka teruslah mencoba dan mencoba. Jangan pernah berhenti mencoba sebelum tercapai target tersebut. Namun justru, berjuang dan mencoba terus tanpa henti hanya akan membuat usaha Anda sia-sia. Ini tentang cara. Seperti kisah Thomas Alfa Edison. Ketika Thomas Alfa Edison diundang untuk berbicara di sebuah pertemuan para ilmuwan dan bangsawan di Inggris, ia mendapat pertanyaan dari seorang bangsawan yang sedikit menyindirnya “Hai Thomas, kudengar engkau gagal sampai 1448 kali dalam mengadakan uji coba untuk menemukan bola lampu listrik ya?” kata bangsawan itu pada Thomas Alfa Edison, dan iapun menjawab, “Tuan, maaf! Saya tak pernah gagal. Saya cuma menemukan cara yang tak bisa menbuat bola lampu menyala lewat listrik sebanyak 1448 kali, dan sampai kali ke-1449 kutemukan cara untuk menyalakan bola lampu dengan listrik.” Jadi, dengan 1448 kali kegagalan, apakah Thomas Alfa Edison hanya menggunakan satu cara untuk menemukan lampu yang menyala? Tidak. Thomas di percobaan pertama, gagal. Percobaan berikutnya tentu Thomas mengubah cara untuk menemukan cara mana yang paling pas untuk membuat lampu. Andai Thomas hanya menggunakan satu cara pertama dan gagal, lalu terus dicoba, akankah lampu berhasil ditemukan? Tentu tidak. Artinya, jika kita sudah mencoba satu cara, bahkan dicoba beberapa kali namun tetap gagal dan hasilnya belum memenuhi ekspektasi, maka jangan buang-buang waktu untuk mencobanya kembali. Atau mencoba dengan bertahan pada cara lama yang hanya akan mengulangi kesalahan atau kegagalan yang sama. Tapi cobalah pendekatan baru, yang belum pernah kita coba sebelumnya. Dengan melakukannya maka kita akan mempunyai kesempatan lain untuk berhasil mencapai target daripada hanya mempertahankan cara yang sudah terbukti tidak berhasil. Sama halnya dengan menuju tempat tertentu, ketika kita sudah mengetahui satu jalan yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah mencari jalan lain yang akan menujukan ke tempat tersebut, bukan justru mengulangi lewat jalur yang sama. Kisah lain, sebelum Soichiro Honda sukses, perjalanan karirnya dipenuhi oleh kegagalan demi kegagalan. Namun apa yang menjadi rahasia keberhasilannya? Inilah kisahnya. Ayah Soichiro Honda, Gihei Honda adalah seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda. Walaupun Gihei Honda miskin, ia suka pembaruan. Rupanya sifatnya dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada Honda. Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang membantu ayahnya di bengkel besi. Di sekolah prestasinya rendah. Tidak jarang ia membolos. Namun selama hidupnya, Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hak paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama ditemukannya ialah teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika mengundurkan diri tahun 1973, penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun, nasihatnya masih didengar. Ia mengatakan, "Semua orang menginginkan kesuksesan. Bagi saya kesuksesan hanya bisa diraih dengan kegagalan dan intropeksi diri.” Ternyata rahasia suksesnya adalah melakukan intropeksi diri! Saat gagal dengan cara yang lama, ia berupaya mencari dan menggunakan cara yang lain. Ketika eksperimennya tidak berhasil, ia meneliti kesalahan cara lama yang sudah dilakukan, menganalisis alasan ketidakberhasilan produknya, sehingga lama-lama menemukan sebuah formula sukses yang sebenarnya. Hasilnya, ia muncul sebagai penemu yang hebat dan diakui oleh dunia "Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahannya dan mencoba lagi dalam suatu cara yang berbeda," demikian ujar Dale Carnegie. Dan itulah yang perlu kita terapkan dalam usaha kita mencapai impian kita. Sayangnya tidak sedikit dari kita yang tidak belajar dari kesalahan yang sudah diperbuat. Sudah tahu cara itu tidak akan membuahkan hasil yang baik, namun tetap saja terus dicobanya. Kita beralasan, "Kita harus tekun dan tidak boleh cepat berputus asa bila menemui kendala." Itu memang benar. Setiap pekerjaan harus dibangun dengan ketekunan dan kesabaran, tetapi bukan berarti kita tidak boleh bersikap fleksibel terhadap pekerjaan kita. Jika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan salah, keliru, tidak tepat, dan tidak berhenti untuk mengoreksinya, maka sebenarnya kita sudah melakukan kesalahan yang lain. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Confucius, "Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya, telah melakukan satu kesalahan lagi.” Sehingga apabila kita merasa suatu usaha kita baik dalam bekerja maupun belajar ternyata hanya diam di tempat tanpa perkembangan yang justru membuat semakin tertinggal, jangan ragu untuk memutar haluan. Jangan takut untuk mengubah cara untuk mengejar target awal. Jika kita mengharapkan hasil yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, maka kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda dengan cara yang berbeda. Sebaliknya jika Anda tetap melakukan apa yang selalu Anda lakukan, jangan heran jika Anda tetap mendapat apa yang selalu Anda dapatkan. Sumur Abar, 12/12/2013

Senin, 18 November 2013

SEEKOR BURUNG DAN SAYAP YANG KERDIL

Sumur Abar - Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya. Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya. Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih. Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?” Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.” Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan. Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Sumur Abar, 18/11/2013

Kamis, 08 November 2012

MASALAH & SEGENGGAM GARAM

Sumur Abar - Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang tengah tertimpa masalah yang bertubi-tubi. Ia berjalan dengan langkah yang gontai dengan mimik yang suram. Orang ini memang terlihat seperti sedang bersedih juga tidak bahagia. Melihat orang tua yang berdiri tidak jauh darinya, pemuda itu menghampiri dan menceritakan permasalahannya kepada orang tua itu. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan kisah yang diceritakan oleh pemuda itu kemudian mengambil segenggam garam dan meminta pemuda itu untuk mengambilkannya segelas air. Ditaburkanlah garam tersebut ke dalam segelas air yang dibawakan oleh pemuda itu sambil berkata, “Coba.. minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” ucap pak tua itu. “Pahit! Pahit sekali!’ balas pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum lalu membawa pemuda itu untuk berjalan-jalan berdampingan ke tepi telaga. Sesampainya di tepi telaga, pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu lalu mengaduknya dengan sepotong kayu hingga tercipta riak air. Kemudian pak tua itu kembali berkata. “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Setelah si pemuda selesai meminum air tersebut pak tua itu kembali bertanya kepada si pemuda, “Bagaimana rasanya?” “Segar!” balas si pemuda. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu, anak muda?’ ‘Tidak.” Timpal kemudian dengan penuh heran dengan maksud pertanyaan si pak tua. Kemudian dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda itu sembari mengajaknya untuk duduk bersimpuh di tepi telaga itu. “Anak muda, dengarkanlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung kepada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kita lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Lalu pak tua itu kembali memberikan nasehat, “Hatimu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu merendam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Lalu keduanya beranjak pulang pada hari itu. Si Pak tua kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda lainnya yang sering datang kepadanya dengan membawa keresahan jiwa. Seringkali ketika kita menghadapi masalah, kita mengeluh, betapa berat masalah kita, betapa sulitnya masalah itu dilewati. Padahal harus kita renungi bersama; mungkinkah Allah mempersiapkan masalah untuk kita tanpa mempersiapkan diri kita lebih dulu?; mungkinkah Allah melimpahkan masalah di luar batas kemampuan kita?; mungkinkah Allah memberikan masalah tanpa memberikan pula jalan keluarnya?; mungkinkah Allah tidak mengangkat derajat orang-orang yang mampu melewati masalah dengan baik? Maka sesungguhnya masalah adalah cara Allah mendidik kita, kita ingin kuat Allah berikan masalah agar kita semakin kuat. Maka jadilah orang yang kuat sehingga apapun menjadi mudah dilaksanakan, sehingga doa yang baik bukanlah, “Allah, mudahkanlah urusanku” karena itu hanya membuatmu lemah dan manja, dalam setiap keadaan kamu akan merasa berat dan berpikirain instan untuk menginginkan segala sesuatu yang mudah dan praktis. Tapi berdoalah, “Allah, kuatkanlah aku” dan kamu menjadi orang yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah yang akan terasa ringan, berat pun menjadi sebuah tantangan yang mengesankan. Sumur Abar, 8/11/2012

Selasa, 17 Juli 2012

WORTEL, TELUR & BIJI KOPI

Sumur Abar - Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih. Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu dengan aroma yang sedap. "Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. Di saat kesulitan menghadang langkah Anda, perubahan apa yang terjadi pada diri Anda? Apakah Anda menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi? Itu terserah Anda. Sumur Abar, 17/7/2012

Rabu, 26 Oktober 2011

KISAH KELEDAI YANG TERPEROSOK DI LUBANG SUMUR

Sumur Abar - Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya si petani memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya), jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur. Si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara si petani dan tetangga-tetangganya terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri. Mungkin kehidupan ini terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari “sumur” (kesedihan, masalah, kegalauan, dan sebagainya) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari “sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah ataupun ujian bukanlah beban, tapi jadikanlah satu batu pijakan untuk melangkah dan melompat ke level yang lebih tinggi. Percayalah, kita dapat keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah. Bila kita menganggap masalah sebagai beban, kita mungkin akan menghindarinya. Akan tetapi apabila kita menganggap masalah sebagai tantangan, kita pasti akan menghadapinya dengan riang. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat kita terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, kita melihat kesempatan dibalik setiap masalah. Masalah merupakan anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Penuhi langkahmu pada anak-anak tangga itu untuk menuju puncak. Hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan. Tanpa masalah, kita tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah. Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku! Sesaat kemudian, bukan kematian yang diterima oleh si anak elang, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila kita tak berani mengatasi masalah, kita tak akan menjadi seseorang yang sejati. Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah kita raih, namun kegagalan yang telah kita hadapi, dan keberanian yang membuat kita tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi. Apa yang kita raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang kita lakukan terus menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila kita yakin pada tujuan dan jalan kita, maka kita harus memiliki ketekunan untuk berusaha. Ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan yang dan kesulitan. Jangan hanya berhenti pada langkah pertama! Sumur Abar, 26/10/2011

Senin, 04 April 2011

KISAH SI KODOK TULI

Sumur Abar - Suatu hari, sekelompok kodok bepergian melewati hutan belantara, tiba-tiba beberapa ekor kodok dari sekelompok kodok itu terjatuh ke dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Kodok-kodok lain segera berkumpul di sekeliling lubang dan melihat betapa dalamnya lubang tersebut. Lalu mengatakan kepada teman-temannya yang terperosok ke dalam jurang bahwa dengan dedalaman tersebut, kemungkinan besar mereka tak akan bisa keluar lagi dari sana dan mati di sumur itu. Kodok-kodok yang terperosok itu mencoba untuk mengabaikan komentar-komentar teman-temannya dan terus berusaha melompat keluar dari sumur dengan mengerahkan seluruh tenaga. Sementara mereka mencoba, kodok-kodok lainnya terus menyuruh mereka berhenti. Alasannya, apa pun yang mereka lakukan, hasil akhirnya tetap sama: mereka tidak akan mampu memanjat lubang dalam dan akan mati. Salah satu dari kodok itu mendengarkan saran teman-temannya dan menyerah. Kodok itu jatuh dan mati. Kodok-kodok lain pun akhirnya menyerah setelah mencoba menyerah, Mereka jatuh dan mati. Kodok yang tinggal seekor terus melompat sekuat tenaga. Melihat hal ini, kodok-kodok lainnya kembali berteriak dan menyuruhnya berhenti menyakiti diri sendiri dengan usaha yang sia-sia. Sehebat apa pun usahanya, dia akan mati juga. Si kodok itu terlihat tidak peduli dan berusaha melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Akhirnya, setelah bekerja keras, si kodok berhasil dan keluar dari sumur dengan selamat. Ketika sampai di darat, kodok-kodok lain merasa takjub dan berkata,’’Kamu tidak mendengar kata-kata kami, ya?’’. Kemudian, ibu dari sang kodok menjawab bahwa anaknya pendengarannya tuli. Maka ia mengira bahwa teman-temannya terus berteriak memberinya semangat agar bisa menyelamatkan diri. Kodok yang selamat itu pun mengucapkan rasa terima kasih kepada teman-temannya yang menyemangatinya. Dari kisah itu kita dapat mengambil pesan moral bahwa sebagaimana pesan dari Imam Al-Ghazali, bahwa yang paling tajam di dunia ini adalah lidah. Sesungguhnya kekuatan hidup dan kekuatan mati ada pada lidah. Kata-kata dapat memberikan pengaruh yang luar biasa. Kata-kata yang buruk dapat mengakibatkan eratnya hubungan menjadi terpecah, benang hubungan menjadi terurai berai, bahkan sekali memberikan kata-kata atau bahasa negatif, sekali dapat memutuskan hubungan, mungkin tidak akan pernah bertemu lagi selamanya. Sebaliknya, kata-kata yang disampaikan dengan bahasa positif dapat menggugah semangat orang yang loyo, dapat membangkitkan orang yang sedang terjatuh, dapat membangunkan orang yang mengalami keterpurukan dan dapat membesarkan hati orang yang sedang putus asa. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa kata-kata penggugah semangat, bahasa positif, itu dapat membuat Anda berfikir & melangkah lebih jauh dari yang Anda perkirakan. Maka selalu ucapkanlah bahasa yang positif, agar lebih bermanfaat bagi orang lain, menjadi kekuatan bagi mereka dan menjadi nilai kredibilitas bagi pemilik sang penutur kata. Kata-kata yang terucap adalah cermin dari pribadi orang tersebut. Sumur Abar, 4/7/2011

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More