This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 17 Maret 2014

Karena Muslimah Adalah Ratu

Sumur Abar - Alkisah, ada seorang prajurit Inggris bertanya pada orang muslim yang baru salat dari masjid. Si prajurit bertanya, “Wanita muslim aneh ya? Kenapa sih mereka tidak boleh saling sentuh dengan pria walaupun cuma jabat tangan? Itu bukan hal yang aneh kan?” Pria muslim balik bertanya, “Coba, sekarang aku yang tanya, kalau kamu yang seorang prajurit Inggris, boleh tidak tiba-tiba jabat tangan atau pegang-pegang ratu Elisabeth, boleh juga tidak aku sentuh-sentuh tangannya?” Prajurit itu dengan lantang menjawab, “Watch your tongue!! Jangan asal ngomong kamu! Ratu itu punya kedudukan tinggi! Mana boleh disentuh oleh pria sembarangan seperti kita. Hanya raja dan keluarga kerajaan yang boleh, walaupun hanya jabat tangan!” Pria muslim kemudian terseyum dan menjawab, “Ya itulah muslimah. Di dalam Islam, agama kami, mereka ibarat seorang ratu. Mereka tidak boleh disentuh kulitnya oleh sembarangan orang kecuali sang raja, yaitu suaminya, dan anggota keluarga saja. Mereka juga punya kedudukan tinggi. Begitulah kami menghargai muslimah.” Prajurit Inggris lalu bertanya lagi, “Terus kenapa aneh begitu, mereka harus berpakaian dengan pakaian yang dibungkus-bungkus? Kan cantiknya berkurang kalau seperti itu!” Pria muslim ini langsung mengeluarkan dua buah permen dari sakunya, ia kemudian membuka bungkusan permen yang satu dan membiarkan permen yang lain masih terbungkus rapi. Pria muslim itu lalu menghempaskannya ke atas tanah seraya berkata, “Sekarang, coba kamu pilih satu permen untuk kamu makan, mana yang kamu pilih?” Prajurit menjawab, “Tentu yang masih dibungkus rapi! Mana mungkin saya harus mengambil dan memakan yang sudah tidak terbungkus? Jijiklah, sudah tidak steril!” Pria muslim menjawab, “Nah seperti itulah muslimah. Kamu tau, muslimah itu wanita pilihan, makanya mereka harus dijaga dengan dibungkus (kerudung dan pakaian menutup aurat) agar mereka tetap steril dan bersih, bahkan dalam keadaan dekat dengan tempat kotor sekalipun. Sehingga kelak mereka akan diambil atau dipinang oleh yang berhak dalam keadaan bersih, steril, tanpa bekas apapun dan siapapun.” Seorang prajurit tersebut akhirnya terdiam dan menyadari betapa indahnya ajaran Islam. Betapa hebatnya Islam dalam memperlakukan wanita, sehingga mereka diperlakukan layaknya seorang ratu. Mereka adalah orang-orang yang dijaga dan dilindungi agar tetap dalam kecantikannya, tanpa pernah “terjajah” oleh orang yang tidak berhak. Mereka benar-benar “dihargai” dengan sangat mahal, sehingga seseorang yang hendak meminangnya harus benar-benar serius dan rela berkorban untuknya. Seorang wanita sempurna seperti setangkai mawar berduri. Dan kesempurnaan mawar adalah pada durinya. Semua kisah, puisi, syair dari klasik hingga post modern memberi tajuk “mawar berduri” untuk gambaran kesempurnaan bunga. Namun terkadang orang menganggap duri pada mawar menganggu, merusak bahkan mengurangi keindahan kelopak mawar. Padahal justru dengan duri itulah setangkai mawar jadi sempurna, terjaga, terlindungi, dan tidak dipetik oleh sembarang orang. Kita pun perlu mengubah mindset kita dalam memandang mawar berduri. Seringkali kita mengeluh bahwa mawar rusak indahnya karena duri, kita tidak mensyukuri sebaliknya, bahwa subhanallah duri itu memiliki bunga mawar nan indah mempesona. Mawar adalah wanita, sedangkan duri pada mawar adalah aturan yang melekat dari Allah . bagi seorang wanita. Banyak orang mengatakan aturan yang Allah buat untuk wanita, mengekang dari kebebasan, membuat sulit mendapatkan jodoh hingga sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal seperti duri pada mawar, justru aturan itu yang melindungi, menjaga keindahan wanita dan membuat seorang wanita mulia dan berwibawa, layaknya seorang ratu yang berkedudukan tinggi. Seperti duri yang jadi penyempurna mawar. Maka aturan Allah yang menjadi penyempurna wanita. Dan jika mawar berduri adalah mawar sempurna. Pastinya, wanita dengan aturan yang melekat dari Rabb-nya pula wanita yang sempurna. Seorang wanita sempurna seperti mawar berduri di tepi jurang. Bukan mawar di tengah taman. Jika mawar ada di tengah taman, mungkin tidak semua orang bisa memetiknya, tapi semua orang akan dengan mudah memandanginya dan menikmati keindahannya. Selain itu, tidak menutup kemungkinan orang biasa hingga orang kurang ajar yang nekat bisa memetik bunga tersebut dengan mudah walaupun ada tulisan “Dilarang Memetik Bunga”. Walau ada larangannya orang tetap berani memetik toh di bawah tulisan larangan itu hanya tertulis ancaman “Denda sekian puluh rupiah atau kurungan sekian waktu”. Tapi jika ada di tepi jurang tentu tak semua tangan berani menyentuhnya. Jikalau ada yang hendak memetiknya, pastinya ia adalah orang yang benar-benar menginginkannya dan rela berkorban hanya untuk mendapatkannya. Ia adalah seorang laki-laki sejati. Ia tahu betapa berharganya wanita, betapa berharganya mawar berduri di tepi jurang tersebut, hingga walaupun sulit dan membutuhkan perjuangan yang melelahkan, ia akan tetap memperjuangkannya, dan tentu karena begitu menginginkannya, dan tahu betapa berharganya ia, serta betapa perjuangan berat yang harus ia tempuh hanya untuk mendapatkannya, maka pria itu akan benar-benar menjaganya dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun ia tidak diperlakukan layaknya seorang raja, ia akan tetap memperlakukan wanita itu layaknya seorang ratu. Maka wahai para wanita, jadilah seperti bunga mawar yang tumbuhlah di tepi jurang. Hingga tak sembarang tangan lelaki bisa mencolekmu, menjamahmu. Hingga jikapun suatu saat ada seorang lelaki memetikmu. Pastilah lelaki yang paling berani berkorban untukmu. Bukan sembarang tangan, bukan sembarang orang, bukan sembarang lelaki. Karena wanita bukanlah barang murah yang boleh disentuh seenaknya, apalagi barang murahan yang habis manis sepah dibuang, kalau sudah bosen diputusin dan ganti yang lain. Wanita bukan barang hiasan yang bisa dipetik dengan ancaman kecil. Dan setelahnya tak ada yang lebih indah dari mawar berduri di tepi jurang, bagi seorang lelaki berani. Seorang wanita dengan aturan dan keterasinganlah yang menarik minat lelaki peradaban. Tapi bagi lelaki pecundang, tentu mengambil mawar tak berduri di tengah taman lebih diinginkan, “Lebih sedikit resiko,” begitu kata mereka yang kalah. Lalu terserah Anda para wanita, Apakah Anda berharap tangan pemberani atau hanya tangan para pecundang yang menyentuh Anda. Tidak tertarikkah Anda bahwa lelaki yang pertama kali menyentuh hatimu, dan menyentuh kulitmu, adalah sang imam kamu sendiri? Sungguh, Anda terlalu berharga.. Sumur Abar, 17/3/2014

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihlah Aku !



Bagas Pratomo
Redaktur Senior Suara Merdeka

Pilihlah aku dalam Pemilu mendatang. Kenapa? Karena aku sudah serius menampilkan pose foto yang paling menarik dalam poster-poster kampanyeku.  Penampilanku itu untuk membujuk kalian agar mencoblos gambarku.

Aku juga sudah menyertakan teks-teks yang mengobral berbagai janji agar kalian semakin tertarik. Bahkan berbagai gelarku juga terpajang agar semakin kelihatan bonafid di mata kalian.

Dan karena sudah keluar banyak uang untuk membuat banyak poster itu, maka aku menginginkan semua poster tersebar dan terpasang di mana-mana.

Tentu aku tidak peduli dimana dan bagaimana akan ditempelkan. Apakah memakai tonggak dari bambu, kayu, digantung di tiang listrik, ataukah dipaku di pohon-pohon peneduh pinggir jalan.

Mana aku peduli dengan protes para pecinta pohon, yang menginginkan pencopotan poster-poster yang dipaku di pohon. Justru aku heran, itu kan cuma pohon. Buatku, tujuan untuk membujuk kalian lewat poster adalah yang paling penting.

Pilihlah aku karena sudah kukeluarkan banyak uang untuk menyumbang partai yang mengusungku. Uang itu kukumpulkan dari menggadaikan sertifikat rumah, menjual tanah mertua, bahkan utang dalam jumlah besar ke bank.

Tentu saja dengan pengorbanan tadi aku betul-betul menginginkan terpilih sebagai anggota Dewan. Mengapa? Dengan menjadi anggota Dewan, modal yang sudah keluar untuk pencalonan tadi kuharapkan bisa balik, syukur-syukur jika berlebih.

Dan sepertinya bakal berlebih. Memang dari gaji saja tidak akan cukup mengembalikan modal tadi. Namun lihatlah uang yang bakal dihasilkan dari kekuasaan sebagai anggota Dewan.

Nanti bisa diatur berbagai kunjungan kerja, baik di dalam dan luar negeri. Kalau perlu jika ke luar negeri, uang saku dinaikkan sebanyak-banyaknya. Jika ada yang protes dan mengatakan ini sebagai pelesiran, gampang kujawab bahwa kita betul-betul memerlukan studi banding ini.

Tentu yang bakal mendatangkan paling banyak uang adalah kekuasaan dalam memberikan persetujuan. Kementerian-kementerian yang membutuhkan penetapan rancangan undang-undang (RUU) pasti bakal tidak sungkan-sungkan memberikan upeti.

Persetujuan untuk menjadikannya undang-undang (UU) tentu tidak gratis. Dalam istilah umum tidak ada makan siang yang gratis. Jika mereka ingin RUU itu gol menjadi UU tentu tidak murah harganya.

Pemilihan pimpinan BUMN dan petinggi institusi pemerintahan ini juga bisa menjadi sumber perolehan uang.

Para calon pimpinan BUMN dan deputi gubernur Bank Indonesia, misalnya, tentu harus merayu kami nantinya dengan jumlah yang cukup untuk membuat kami meloloskannya dalam pemilihan jabatan mereka.

Masih ada lagi. Departemen-departemen dan lembaga-lembaga pemerintah yang menginginkan persetujuan Dewan untuk bisa mengimpor komoditi strategis mestinya harus tahu diri.

Konsesi impor, apakah impor daging sapi, beras, kedelai, atau minyak, yang nantinya bakal diberikan kepada pihak swasta tentunya menyangkut uang miliaran rupiah. Keuntungan perusahaan-perusahaan swasta itu tentu banyak. Jadi wajar saja jika nanti aku juga meminta bagian dari keuntungan itu, dan yang pasti harus dibayar di muka.

Para pejabat pemerintah itulah yang harus mengatur, apakah lewat makelar, bawahan atau orang suruhan lain, agar ''jatah'' kami sampai terlebih dahulu sebelum konsesi diberikan kepada perusahaan swasta.

Tentu tidak perlu kupikirkan bahwa tindakan itu bakal menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Jika harga daging atau kedelai jadi mahal, toh aku masih bisa membelinya. Bagaimana dengan masyarakat? Ya gampang, nanti kuimbau untuk prihatin dulu, makan seadanya.

Sebagai anggota Dewan, aku juga akan menggunakan kekuasaanku untuk mengarahkan penggunaan anggaran pendapatan dan  belanja pemerintah.

Aku tentu sudah menyiapkan perusahaan-perusahaan instan sebagai pelaksana proyek-proyek pemerintah. Duduk di perusahaan itu adalah istriku, mertua, keponakan, kerabat lain, atau orang kepercayaanku.

Jadi selain melobi ke pemerintah, perusahaan-perusahaan yang dijalankan kerabatku ini juga sudah siap untuk menerima proyek.

Jika kemudian tidak mampu mengerjakannya, gampang disubkontrakkan lagi ke perusahaan lain. Tentu saja dengan nilai proyek yang serendah-rendahnya, supaya perusahaanku bisa mengambil keuntungan banyak dari bisnis rente ini.

Mengenai mutu proyek yang dibangun nanti, kan bukan tanggung jawabku lagi. Itu sudah jadi tanggung jawab perusahaan subkontrak yang melaksanakannya.

Pilihlah aku, karena diam-diam aku juga sudah melakukan berbagai ritual di beberapa tempat keramat. Untunglah kalian tidak mengetahuinya, karena pendampingku tidak terjatuh ke jurang dan meninggal.

Tindakan irasionalku tak sampai terberitakan oleh media massa seperti calon legislatif (caleg) lain itu. Masyarakat yang rasional tetap akan menganggapku sebagai caleg yang rasional.

Tentu aku tidak akan mengatakan semua hal tadi secara terbuka kepada kalian. Itu semua hanya akan tersimpan di dalam hati dan pikiranku.

Aku akan mengemas figurku sebagai yang kalian butuhkan. Janji bakal amanah dalam mengemban tugas sebagai wakil rakyat jelas akan tercantum dalam poster-poster dan kampanye nanti.

Janji-janji bakal mensejahterakan masyarakat bakal berbuih-buih keluar dari mulutku.

Penampilan dan titel haji bisa kujadikan pelengkap supaya semakin mantap kemasanku. Janji dan amanah tadi aku sendiri mungkin sangsi apakah bisa memenuhinya, namun yang penting tampil meyakinkan dulu.

Ini jamannya mencari amanah, bukan menerima amanah. Kalau tidak meyakinkan, tidak bakal dapat jatah.

Bagaimana pertanggungjawaban soal semua ini dan ritual tadi kepada Gusti Allah? Ah itu masih lama. Gampang, nanti saja. Bagaimana? Mau kan memilih aku?

Sumur Abar, 11/3/2014

Senin, 03 Maret 2014

SETELAH ADA KESUSAHAN, PASTI ADA KEMUDAHAN

Sumur Abar - Wahai saudaraku, pernahkah Anda merasakan sebuah keadaan dimana berbagai cobaan datang silih berganti, berbagai musibah datang menerpa, berbagai kesulitan hidup menghimpit jiwa dan menyesakkan dada–dada kita. Pernahkah Anda merasakan sebuah keadaan di mana berbagai upaya telah kita tempuh, berbagai ikhtiar dan doa telah kita jalankan, akan tetapi permasalahan itu tak kunjung selesai, hanya tinggal kepasrahan atas kehendak Allah, yang menyelimuti pikiran kita, pernahkah kita mengalaminya? Itu merupakan sebuah dinamika hidup yang harus kita jalani. Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah bekerja ada istirahat, setelah sakit ada sembuh, yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Bagaimanapun hidupmu, pastikan janganlah membuatmu bersedih, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman Allah ; “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah (94) : 5-6). Bukan hanya kita sebagai manusia biasa yang mengalaminya, kekasih-kekasih Allah seperti para nabi-Nya pun tak kan luput dari permasalahan tersebut. Rasulullah Saw pun pernah mengalami berbagai cobaan dalam hidupnya, percobaan pembunuhan, pelecehan, cacian, hingga pemboikotan pun pernah beliau rasakan, tapi sungguh luar biasa ketabahan beliau dan keoptimisan beliau dalam menyikapi hal itu semua. Ketika ayat 5-6 surat Al-Insyirah turun, Rasulullah Saw bersabda ; “Bergembiralah kalian semua, karena akan datang bagi kalian kemudahan, kesukaran tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” Maka saudaraku, berilah kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar terang dari puncak gunung, dan celah-celah lembah. Berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, bahwa akan ada kegembiraan dan ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu. Ketika kita hendak menuju Jakarta dari Surabaya, dapat dipastikan kita tidak akan langsung melihat Jakarta pada langkah-langkah awal, akan tetapi setapak demi setapak yang kita lalui hanya akan terlihat di depan mata kita pemandangan yang jaraknya hanya sekian meter dari posisi kita, namun apabila terus berjalan menempuh perjalanan, maka Jakarta itupun akan segera terlihat oleh mata, dan sampai pula di Jakarta tempat tujuan. Sesungguhnya, setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan. Sebagai seorang mukmin kita harus meyakini bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Yakinlah apabila himpitan dan kesulitan itu telah mencapai puncaknya, maka insya Allah ia akan berakhir dan terlampaui dengan hadirnya kemudahan dan kelapangan. Lihatlah bagaimana saat Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk, namun apa yang terjadi pada beliau setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fikih. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis kasidah yang benar-benar membuat orang terpukau, syair-syair beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang terkenal itu. Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu disuguhkan seseorang secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula di dalamnya biar terasa manis. Jadikanlah pendingin di dalam tubuhmu yang keras, dan panas itu sebagai penyeimbangnya. Agar keluar dari dalam tubuh kita bunga yang harum semerbak wanginya. Bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya, karena Allah berfirman : “Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah yang terbaik untukmu. Begitupun sebaliknya, bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga.” (Qs. Al-Baqarah (2): 216). Sumur Abar, 3/3/2014

Kamis, 12 Desember 2013

KALAU GAGAL, JANGAN COBA LAGI

Sumur Abar - Mungkin pembaca merasa heran dengan judul di atas, dalam mindset yang kita pahami, apabila Anda gagal dalam mencapai suatu keinginan atau target, maka teruslah mencoba dan mencoba. Jangan pernah berhenti mencoba sebelum tercapai target tersebut. Namun justru, berjuang dan mencoba terus tanpa henti hanya akan membuat usaha Anda sia-sia. Ini tentang cara. Seperti kisah Thomas Alfa Edison. Ketika Thomas Alfa Edison diundang untuk berbicara di sebuah pertemuan para ilmuwan dan bangsawan di Inggris, ia mendapat pertanyaan dari seorang bangsawan yang sedikit menyindirnya “Hai Thomas, kudengar engkau gagal sampai 1448 kali dalam mengadakan uji coba untuk menemukan bola lampu listrik ya?” kata bangsawan itu pada Thomas Alfa Edison, dan iapun menjawab, “Tuan, maaf! Saya tak pernah gagal. Saya cuma menemukan cara yang tak bisa menbuat bola lampu menyala lewat listrik sebanyak 1448 kali, dan sampai kali ke-1449 kutemukan cara untuk menyalakan bola lampu dengan listrik.” Jadi, dengan 1448 kali kegagalan, apakah Thomas Alfa Edison hanya menggunakan satu cara untuk menemukan lampu yang menyala? Tidak. Thomas di percobaan pertama, gagal. Percobaan berikutnya tentu Thomas mengubah cara untuk menemukan cara mana yang paling pas untuk membuat lampu. Andai Thomas hanya menggunakan satu cara pertama dan gagal, lalu terus dicoba, akankah lampu berhasil ditemukan? Tentu tidak. Artinya, jika kita sudah mencoba satu cara, bahkan dicoba beberapa kali namun tetap gagal dan hasilnya belum memenuhi ekspektasi, maka jangan buang-buang waktu untuk mencobanya kembali. Atau mencoba dengan bertahan pada cara lama yang hanya akan mengulangi kesalahan atau kegagalan yang sama. Tapi cobalah pendekatan baru, yang belum pernah kita coba sebelumnya. Dengan melakukannya maka kita akan mempunyai kesempatan lain untuk berhasil mencapai target daripada hanya mempertahankan cara yang sudah terbukti tidak berhasil. Sama halnya dengan menuju tempat tertentu, ketika kita sudah mengetahui satu jalan yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah mencari jalan lain yang akan menujukan ke tempat tersebut, bukan justru mengulangi lewat jalur yang sama. Kisah lain, sebelum Soichiro Honda sukses, perjalanan karirnya dipenuhi oleh kegagalan demi kegagalan. Namun apa yang menjadi rahasia keberhasilannya? Inilah kisahnya. Ayah Soichiro Honda, Gihei Honda adalah seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda. Walaupun Gihei Honda miskin, ia suka pembaruan. Rupanya sifatnya dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada Honda. Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang membantu ayahnya di bengkel besi. Di sekolah prestasinya rendah. Tidak jarang ia membolos. Namun selama hidupnya, Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hak paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama ditemukannya ialah teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika mengundurkan diri tahun 1973, penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun, nasihatnya masih didengar. Ia mengatakan, "Semua orang menginginkan kesuksesan. Bagi saya kesuksesan hanya bisa diraih dengan kegagalan dan intropeksi diri.” Ternyata rahasia suksesnya adalah melakukan intropeksi diri! Saat gagal dengan cara yang lama, ia berupaya mencari dan menggunakan cara yang lain. Ketika eksperimennya tidak berhasil, ia meneliti kesalahan cara lama yang sudah dilakukan, menganalisis alasan ketidakberhasilan produknya, sehingga lama-lama menemukan sebuah formula sukses yang sebenarnya. Hasilnya, ia muncul sebagai penemu yang hebat dan diakui oleh dunia "Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahannya dan mencoba lagi dalam suatu cara yang berbeda," demikian ujar Dale Carnegie. Dan itulah yang perlu kita terapkan dalam usaha kita mencapai impian kita. Sayangnya tidak sedikit dari kita yang tidak belajar dari kesalahan yang sudah diperbuat. Sudah tahu cara itu tidak akan membuahkan hasil yang baik, namun tetap saja terus dicobanya. Kita beralasan, "Kita harus tekun dan tidak boleh cepat berputus asa bila menemui kendala." Itu memang benar. Setiap pekerjaan harus dibangun dengan ketekunan dan kesabaran, tetapi bukan berarti kita tidak boleh bersikap fleksibel terhadap pekerjaan kita. Jika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan salah, keliru, tidak tepat, dan tidak berhenti untuk mengoreksinya, maka sebenarnya kita sudah melakukan kesalahan yang lain. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Confucius, "Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya, telah melakukan satu kesalahan lagi.” Sehingga apabila kita merasa suatu usaha kita baik dalam bekerja maupun belajar ternyata hanya diam di tempat tanpa perkembangan yang justru membuat semakin tertinggal, jangan ragu untuk memutar haluan. Jangan takut untuk mengubah cara untuk mengejar target awal. Jika kita mengharapkan hasil yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, maka kita perlu melakukan sesuatu yang berbeda dengan cara yang berbeda. Sebaliknya jika Anda tetap melakukan apa yang selalu Anda lakukan, jangan heran jika Anda tetap mendapat apa yang selalu Anda dapatkan. Sumur Abar, 12/12/2013

Senin, 18 November 2013

SEEKOR BURUNG DAN SAYAP YANG KERDIL

Sumur Abar - Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya. Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya. Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih. Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?” Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.” Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan. Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Sumur Abar, 18/11/2013

Rabu, 17 Juli 2013

FRESH GRADUATE UNTUK SEBUAH PENGABDIAN



Sumur Abar - Produk kelulusan mahasiswa dari perguruan tinggi tentu membawa dampak terhadap daya serap lulusan sebagai tenaga kerja baru atas peluang kerja yang tersedia. Kondisi seperti ini tak akan pernah selesai karena akan selalu dihasilkan lulusan baru setiap tahunnya, baik dari PTS ataupun PTN. Lulusan dari PTN pertahun mencapai 625 ribu orang, 80 persen di antaranya berada di Jawa. Para lulusan ini cenderung tidak memenuhi kebutuhan industri.

Jika data tahun 2010-2011 saja tercatat ada 4.337.039 mahasiswa di Indonesia, 58% kuliah di PTS dan 42% di PTS dengan kategori PTN baik dan besar 79% ada di Jawa, dan PT dengan kategori sedang hanya 21% ada di luar Jawa, maka dapat dipastikan bahwa empat tahun ke depan yang akan datang lulusan baru PT akan berada di atas angka 1 juta.

Dari catatan dunia kemahasiswaan terhadap stakeholder pengguna tenaga kerja lulusan PT, ternyata selama ini sering mengeluhkan kemampuan softskill tenaga kerjanya. Lantas kriteria tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan? Dalam persaingan global saat ini, kebutuhan tenaga kerja profesional dengan kemampuan softskill yang baik sudah menjadi tuntutan yang wajib dimiliki. Tenaga profesional yang demikian ini tidak lagi sekedar memiliki skill dan kecerdasan emosional, namun juga diperlukan juga kemampuan softskill yang sudah terasah lama sejak menempuh studi, sehingga tidak instan dan asal ikut pelatihan.

Bagaimana dunia pendidikan kita mendorong dihasilkannya produk pendidikan yang mampu menjawab tantangan global? Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan dalam pengertian pendidikan, yaitu: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dirim kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinyam masyarakat, bangsa dan negara. Lalu bagaimana fakta yang ada dalam dunia pendidikan kita? Jujur harus kita katakan bahwa produk pendidikan kita belum mencapai seperti yang tertuang dalam UU 20/2003 tersebut.

Hasil survei tahun 2010 diketahui bahwa sebanyak 83,18 persen lulusan PT berharap menjadi karyawan, 60,87 persen lulusan sekolah menengan menginginkan menjadi karyawan juga. Dan yang bercita-cita menjadi pengusaha, untuk lulusan PT untuk sementara hanya 6,14 persen, sementara lulusan SMA hanyab 22,63 persen, sedangkan jumlah pengangguran sebanyak 8 juta orang. Angka ini menjelaskan kepada kita bahwa dunia pendidikan belum sepenuhnya mampu mendorong terciptanya para lulusan yang siap turun di dunia kerja secara mandiri. Belajar dari bangsa yang sudah maju memang semuanya berangkat dari kerja keras untuk tujuan membangun kemajuan bangsanya. Dan menjadi bansga yang maju merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia.

Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan sehingga untuk mengukur suatu bangsa itu maju atau terbelakang dilihat dari bagaimana kemajuan dunia pendidikannya, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila generasi yang dicetak outputnya bagus, pasti SDM yang dihasilkan bagus, namun apabila output proses pendidikan gagal, maka sulit mencapai kemajuan.

Kehadiran para fresh graduate untuk memajukan Indonesia sangat dinantikan, khususnya membangun dan memajukan dunia pendidikan guna mengubah keadaan pendidikan di negeri ini sesuai harapan menuju mekajuan yang merata di seluruh negeri. Kiprah fresh graduate di dunia pendidikan ini tdiak berhenti bahkan hilang karena harapan imbalan yang belum pantas dan layak diterimanya karena jumlah tidak sesuai harapan, tapi harus lebih mengedepankan rasa tanggungjawab yang ditumbuhkan secara profesional untuk memajukan bangsa. Imbalan atas kinerja di bidang pendidikan saat ini sedang di proses untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, apalagi kita sendiri yang mengatakan jer basuki mawa bea.

Jujur harus dikatakan bahwa dunia pendidikan di Indonesia memasuki tahun 90-an mengalami lompatan kemajuan yang luar bisa di berbagai jenjang pendidikan. Apalagi perkembangan tekhnologi di era modern saat ini sangat mendukung terbukanya informasi yang dibutuhkan dunia pendidikan. Seiring dengan dukungan tekhnologi, dalam dunia pendidikan, pekerjaan rumah membangun SDM bangsa yang berdaya saing global membutuhkan piranti-piranti yang mampu menciptakan kader bansga yang kuat pada setiap jenjang pendidikan. Itulah gerbang pengabdian  para fresh graduate yang dinantikan di dunia pendidikan.

Sumur Abar, 17/7/2013

Selasa, 07 Mei 2013

GRATIS BUKAN BAHASA PENDIDIKAN



Sumur Abar - Mutu pendidikan yang berkualitas disinyalir menjadi kunci dari permasalahan bangsa Indonesia terhadap lemahnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Praktis, Indonesia masih berkutat pada status “negara berkembang” dan tak mampu beranjak merangkak naik untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri. Mengenai kualitas pendidikan ini, terdapat berbagai permasalahan yang melingkupinya, mulai dari pendidikan yang rumit, kualitas siswa yang rendah, mutu pendidik yang kurang, biaya pendidikan mahal hingga kebijakan UU pendidikan yang kacau.

Akhirnya, gerakan pendidikan gratis menjadi brandsmark yang didengung-dengungkan akan menjadi solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia. Target wajib belajar selama sembialn tahun yang dicanangkan pemerintah pun disinyalir akan lebih mudah tercapai. Kondisi ini akhirnya memicu munculnya kebijakan pemekaran anggaran bagi pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD. Kebijakan ini akhirnya memunculkan berbagai program pendidikan gratis yang ditargetkan kepada sekolah-sekolah, terutama sekolah non-favorit, untuk dapat menyelenggarakan pendidikan gratis tanpa memungut biaya apapun dari wali siswa.

Harus diakui memang, sepintas kebijakan ini cukup baik untuk mampu menjawab permasalahan-permasalahan pendidikan semisal akan berkurangnya beban wali siswa untuk pembiayaan pendidikan serta tidak akan ada lagi siswa yang harus kena skors gara-gara nunggak bayar SPP.
Namun apabila dicermati lebih dalam, program murni pendidikan gratis justru rentan menambah permasalahan, target mulai yang diusung menyimpan bara dalam sekam. Justru, dengan program pendidikan gratis akan mematikan esensi dari cita-cita luhur pendidikan yaitu menciptakan pelajar yang mandiri, kreatif dan produktif.

Sesungguhnya, kualitas pendidikan menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang memiliki kesungguhan dalam belajar. Karakter yang kuat dan mentalitas yang tangguh merupakan bagian dari target pendidikan selain mencetak keunggulan intelektualitas dan keanggunan moralitas. Masalah biaya justru akan memacu sebagai tantangan dalam belajar para peserta didik. Memberikan pendidikan gratis secara cuma-cuma justru hanya akan mencetak generasi muda yang instan, hanya suka jalan pintas dan mental gratisan. Pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan gratis mampu melemahkan semangat belajar dan rasa tanggungjawab untuk bekerja keras terhadap pendidikannya.

Selain itu, permasalahan tentu ada pada diri orangtua yang akan mulai kehilangan rasa tanggungjawab terhadap beban belajar anaknya. Praktis, nilai kepuasan dan tanggungjawab serta rasa memiliki akan luntur. Kemudian kebijakan pendidikan gratis akan turut memberikan sekat dan memisahkan komunikasi antara sekolah dan pihak orangtua siswa.

Maka, seharusnya pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah harus dilakukan dengan syarat, dan bukan cuma-cuma. Ini agar mencetak generasi yang pekerja keras, kreatif, bertanggungjawan, dan bermental baja untuk bersaing dalam dunia yang lebih luas.

Artinya, program pendidikan gratis bisa dialihkan sebagai dalam bentuk pemberian beasiswa yang lebih banyak dan aktif, seperti beasiswa bagi pelajar berprestasi di berbagai bidang untuk memompa berbagai bakat dan minat yang dimiliki pelajar. Bantuan pemerintah tidak seharusnya untuk menutupi semua kebutuhan secara menyeluruh, namun tetap sisakan ruang bagi orangtua siswa untuk memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai wali siswa. Sehingga dengan kebijakan ini justru berbagai target yang dicanangkan akan secara massif terwujud seperti penyelenggaraan pendidikan gratis bagi siswa berprestasi di berbagai bidang, menciptakan pelajar kreatif dan bekerja keras serta berdaya saing, dan terwujudnya pendidikan yang berkualitas tanpa membebani orangtua siswa.

Sumur Abar, 7/5/2013

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More